Monday, November 26, 2012

ILMU HADIS - 3. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU HADIS

III.      Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadis


A.     Period Pertama (Zaman Rasulullah)


§  Para sahabat bergaul dan berinteraksi secara langsung dengan Nabi, sehingga setiap permasalahan atau hukum dapat ditanyakan langsung kepada Nabi.

§  Para sahabat lebih prihatin/fokus dengan menghafal dan mempelajari Al-Qur’an

§  Secara umum Rasulullah saw melarang menuliskan hadis kerana takut bercampur baur dengan ayat Al-Qur’an kerana ketika itu wahyu sedang / masih diturunkan.

§  Secara umum sahabat masih banyak yang buta huruf sehingga tidak menulis hadis, mereka meriwayatkan hadis secara hafalan lisan.

§  Sebagian kecil sahabat –yang pandai membaca dan menulis - menuliskan hadis seperti : Abdullah Bin Amr Bin Ash yang mempunyai catatan hadis dan dikenal sebagai “Shahifah Ash Shadiqah” juga Jabir Bin Abdullah Al Anshary mempunyai catatan hadis yang dikenal sebagai “Shahifah Jabir”

§  Pada peristiwa tertentu orang arab badwi ingin fatwa Nabi dituliskan, maka Nabi meluluskan permintaannya untuk menuliskan hadis untuknya.

§  Para sahabat masih disibukkan dengan peperangan penaklukan kabilah-kabilah di seluruh jazirah Arab.

§  Para sahabat yang belum faham tentang suatu hukum bisa saling bertanya kepada yang lebih tahu dan saling mempercayai penuturannya.


B.     Period Kedua (Masa Khulafa Ar-Rasyidin)


§  Sebagian sahabat tersebar keluar jazirah Arab kerana ikut serta dalam jihad penaklukan ke daerah Syam, Iraq, Mesir, Persia.

§  Pada daerah taklukan yang baru masuk Islam, Khalifah Umar menekankan agar mengajarkan Al-Qur’an terlebih dahulu kepada mereka.

§  Khalifah Abu Bakar meminta kesaksian sekurang-kurangnya satu orang bila ada yang meriwayatkan hadis kepadanya.

§  Khalifah Ali meminta bersumpah orang yang meriwayatkan hadis

§  Khalifah Umar melarang sahabat besar keluar dari kota Madinah dan melarang memperbanyakkan periwayatan hadis.

§  Setelah Khalifah Umar wafat, sahabat besar keluar kota Madinah tersebar ke Ibu kota daerah taklukkan untuk mengajarkan agama.


C.     Period Ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)


§  Para sahabat besar telah terpancar keluar dari Kota Madinah.

§  Jabir pergi ke Syam menanyakan hadis kepada sahabat Abdullah Bin Unais Al Anshary.

§  Abu Ayyub Al Anshary pergi ke Mesir menemui sahabat Utbah Bin Amir untuk menanyakan hadis.

§  Masa ini sahabat besar tidak lagi membatasi diri dalam periwayatan hadis, yang banyak meriwayatkan hadis antara lain :

1.    Abu Hurairah (5347 hadis)

2.    Abdullah Bin Umar (2360 hadis)

3.    Anas Bin Malik (2236 hadis)

4.    Aisyah, Ummul Mukminin (2210 hadis)

5.    Abdullah Bin Abbas (1660 hadis)

6.    Jabir Bin Abdullah (1540 hadis)

7.    Abu Sa’id Al Kudri (1170 hadis)

8.    Ibnu Mas’ud

9.    Abdullah Bin Amr Bin Ash


Pada waktu pemerintahan Khalifah Ali, terjadi pemberontakan oleh Muawiyah Bin Abu Sufyan, setelah peristiwa tahkim (arbitrase) muncul kelompok (sekte) kawarij yang memusuhi Ali dan Muawiyah. Setelah terbunuhnya Khalifah Ali, muncul sekte Syiah yang mendukung Ali dan keturunannya sementara kelompok jumhur (majoriti) tetap mengakui pemerintahan Bani Umayah. Sejak saat itu mulai kemunculan hadis palsu yang bertujuan mendukung masing-masing kelompoknya. Kelompok yang terbanyak membuat hadis palsu adalah Syiah Rafidah.


D.     Period Keempat (Masa Pembukuan Hadis)


Pada waktu Umar Bin Abdul Aziz (Khalifah ke-8 Bani Umayyah) yang memerintah pada tahun 99H, beliau terkenal sebagai orang yang adil dan wara’ bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai Khulafa Ar-Rasyidin yang ke-5, tergeraklah hatinya untuk membukukan hadis dengan tujuan :

a.    Beliau khuatir ilmu hadis akan hilang kerana belum dibukukan dengan baik.

b.    Kemahuan beliau untuk menyaring/menapis hadis palsu yang sudah mulai banyak beredar.

c.    Al-Qur’an sudah dibukukan dalam mushaf, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran tercampur dengan hadis bila hadis dibukukan.

d.    Peperangan dalam penaklukan negeri negeri yang belum Islam dan peperangan antara sesama kaum Muslimin banyak terjadi, dikhawatirkan ulama hadis berkurang kerana wafat dalam peperangan-peperangan tersebut.


Khalifah Umar mengarahkan Gabenor Madinah Abu Bakar Bin Muhammad Bin ‘Amr Bin Hazm (Ibnu Hazm) untuk mengumpulkan hadis yang ada padanya dan pada tabi’in wanita ‘Amrah Binti ‘Abdur Rahman Bin Sa’ad Bin Zurarah Bin ‘Ades, murid Aisyah-Ummul Mukminin.


Khalifah Umar Bin Abdul Azis menulis instruksi/arahan kepada Ibnu Hazm: “Lihat dan periksalah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasulullah, lalu tulislah kerana aku takut akan lenyap imu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan anda terima selain hadis Rasulullah saw dan hendaklah anda sebarkan ilmu dan mengadakan majlis-majlis ilmu supaya orang yang tidak mengetahui dapat mengetahuinya, lantaran tidak lenyap ilmu hingga dijadikannya barang rahsia.”


Berdasarkan instruksi rasmi Khalifah itu, Ibnu Hazm meminta bantuan dan menginstruksikan kepada Abu Bakar Muhammad Bin Muslim Bin Ubaidillah Bin Syihab az Zuhry (Ibnu Syihab Az Zuhry)-seorang ulama besar dan mufti Hijaz dan Syam- untuk turut membukukan hadits Rasulullah saw. Setelah itu penulisan hadis pun marak dan dilakukan oleh banyak ulama abad ke-2 H, yang terkenal diantaranya :

a.    Al-Muwaththa’, karya Imam Malik Bin Anas (95 H – 179 H).

b.    Al Masghazy wal Siyar, hadits sirah nabawiyah karya Muhammad Ibn Ishaq (150H).

c.    Al Mushannaf, karya Sufyan Ibn ‘Uyainah (198 H)

d.    Al Musnad, karya imam Abu Hanifah (150 H)

e.    Al Musnad, karya imam Syafi’i (204 H)


E.      Period kelima (Masa Kodifikasi Hadis)


1.      Period Penyaringan hadis dari Fatwa-fatwa sahabat (abad ke-III H)


§  Menyaring hadis nabi dari fatwa-fatwa sahabat nabi

§  Masih tercampur baur hadis sahih, dhaif dan maudu’ (palsu).

§  Pertengahan abad tiga baru disusun kaidah-kaidah penelitihan ke sahihan hadis.

§  Penyaringan hadis sahih oleh imam ahli hadits Ishaq Bin Rahawaih (guru Imam Bukhary).

§  Penyempurnaan kodifikasi ilmu hadis dan kaedah-kaedah pensahihan suatu hadis.

§  Penyusunan kitab Sahih Bukhory

§  Penyusunan enam kitab induk hadis (kutubus sittah), yaitu kitab-kitab hadis yang diakui oleh jumhur ulama sebagai kitab-kitab hadis yang paling tinggi mutunya, sebagian masih mengandung hadis dhaif tapi ada yang dijelaskan oleh penulisnya dan dhaifnya pun yang tidak keterlaluan dhaifnya, ke enam kuttubus shittah itu adalah :

1.    Sahih Bukhory

2.    Sahih Muslim

3.    Sunan Abu Dawud

4.    Sunan An Nasay

5.    Sunan At-Turmudzy

6.    Sunan Ibnu Majah


2.      Period menghafal dan mengisnadkan hadis (abad ke - 4 Hijrah)


§  Para ulama hadits berlomba-lomba menghafalkan hadits yang sudah tersusun pada kitab-kitab hadits.

§  Para ulama hadits mengadakan penelitian hadits-hadits yang tercantum pada kitab-kitab hadits.

§  Ulama hadits menyusun kitab-kitab hadits yang bukan termasuk kuttubus shittah.


3.      Periode Klasifikasi dan Sistimasi/penyusunan Kitab-Kitab Hadis (abad ke 5 Hijrah s.d 656 H, jatuhnya Baghdad)


§  Mengklasifikasikan hadis dan menghimpun hadis-hadis yang sejenis.

§  Menguraikan dengan luas (mensyarah) kitab-kitab hadis.

§  Memberikan komentar/kritik (takhrij) kitab-kitab hadis.

§  Meringkas (ikhtisar) kitab-kitab hadis.

§  Menciptakan kamus hadis.

§  Mengumpulkan (jami’) hadis-hadis bukhory-Muslim

§  Mengumpulkan hadis targhib dan tarhib.

§  Menyusun kitab athraf, yaitu kitab yang hanya menyebut sebagian hadis kemudian mengumpulkan seluruh sanadnya, baik sanad kitab mahupun sanad dari beberapa kitab.

§  Menyusun kitab istikhraj, yaitu mengambil sesuatu hadis dari sahih Bukhory dan Muslim umpamanya, lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri, yang lain dari sanad Bukhary atau Muslim karena tidak memperoleh sanad sendiri.

§  Menyusun kitab istidrak, yaitu mengumpulkan hadis-hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhary dan Muslim atau syarat salah seorangnya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau disahihkan oleh keduanya.


F.      Period ke-enam (dari tahun 656 H – sekarang)


§  Mulai dari jatuhnya Baghdad oleh Hulagu Khan dari Mongol tahun 656 H – sekarang ini.

§  Menertibkan, menyaring dan menyusun kitab kitab takhrij.

§  Membuat kitab-kitab jami’

§  Menyusun kitab-kitab athraf

§  Menyusun kitab-kitab zawaid, yaitu mengumpulkan hadits-hadits yang tidak terdapat dalam kitab kitab yang sebelumnbya kedalam sebuah kitab yang tertentu.

No comments:

Post a Comment